9/22/2016

DIA

Kalau sudah begini, mau tidak mau aku menyesali mengapa aku ingin berlama-lama pulang ke rumah tadi. Sekarang justru terbelenggu dingin di teras sebuah cafe menanti hujan reda. Malam sudah cukup dingin tanpa harus ditemani gemericik air. Dan lelah melengkapi rasa kesalku malam ini. 
Bosan menyaksikan hujan yang tak kunjung reda, aku memutuskan untuk menikmati suasana cafe. Memesan secangkir cokelat panas untuk menghangatkan tubuh. Ahh... tidak ada jalan lain selain menikmati malam ini dengan semua yang sedang dan telah terjadi. Anggap saja aku sedang merelaksasikan otot dan fikiranku dari aktivitas seharian.
Kamu tau apa yang paling romantis dari malam? Hujan, dan sorot lampu jalanan. Dari disini aku bisa menyaksikannya dengan leluasa. Bagaimana tak henti-hentinya hujan turun memeluk bumi meski pada akhirnya ia akan jatuh dan pecah berbentur aspal.
Petikan gitar disebuah sudut ruangan menyeret pandanganku dari jalanan diluar sana. Seorang penyanyi cafe dengan gitar akustik dipelukannya. Ku kenali petikan gitar itu sebagai intro dari sebuah lagu yang sedang hits belakangan ini. "Lagu itu lagi"lirihku. Aku menghela nafas bosan dan kembali membawa pandanganku keluar.

Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta

Yang tak pernah ku duga adalah suara penyanyi cafe ini memberikan ekspektasi yang tidak biasanya setiap kali lagu ini ku dengar. Ntahlah bagaimana menjelaskannya. Ntah karena suaranya yang jernih, kolaborasi gitarnya yg terdengar apik, atau justru karena suasana hujan malam ini. Ia menyanyikannya seakan membawaku menuju dimensi yang berbeda. Ia membawa bayang seseorang yang belum sempat ku sapa seharian ini. Kamu, tiba-tiba menari dalam benakku.

hati ini kembali temukan senyum yang hilang
semua itu karena dia

Fikirku menari diri ini ke masa yang berbeda. Dulu, dimana semua tentang kita berawal.
Apa jadinya jika dulu kita tidak bertemu, tidak menyapa, tidak saling bertukar senyum. Apa aku akan tetap membawa patah hatiku hingga bertahun-tahun ke depan?
Apa jadinya jika Tuhan tidak menggerakkan hati salah satu dari kita untuk menyelami rasa. Apa kita akan tetap berdiam ditempat, mengagumi dari sisi tergelap yang berbeda?
Apa kamu tetap datang menawarkan apa yang sempat hilang, yang mampu ku sentuh, kulihat dengan mata?
Apa jadinya jika...

oh tuhan kucinta dia, kusayang dia rindu dia, inginkan dia
utuhkanlah rasa cinta dihatiku hanya padanya, untuk dia

Ingat, kamu sering mengatakan padaku agar tidak perlu bersusah untuk membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi atau  mengandaikan sesuatu. Jalani saja. Menyelami setiap rasa. Mereguk setiap rindu. Bahwa disini, aku ada. Dan kamu adalah apa yang selalu ku sebut dalam permintaan terbaikku kepada Tuhan. 

jauh waktu berjalan kita laluli bersama
betapa disetiap hari kujatuh cinta padanya

Meninggalkan semuanya dibelakang. Potongan-potongan cerita dari masing-masing kita yang tak perlu lagi di genggam. Melipatnya hingga tak berbentuk dan menguburkannya jauh, jauuhh di sudut tergelap malam. Sebab yang ada kini, hari ini, adalah kita yang sedang bergandengan tangan. Berjalan ditengah dinginnya malam bahkan teriknya siang. Menapaki terjalnya pegunungan. Menyusuri tepian pantai. Digemerlapan lampu perkotaan. Dihijaunya pedesaan. Bahkan berlari ditengah guyuran hujan. Yang ada kini hanya kita yang sedang berusaha melukis kenangan. Dan dari semua perjalanan yang telah kita lakukan, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padamu? Bagamana mungkin...

dicintai oleh dia kumerasa sempurna
semua itu karena dia

Lagu itu hampir selesai ia nyanyikan. Petikan gitar dan suara jernihnya semakin ramai membawa sketsa wajahmu dan semua cerita yang kita lalui. Seolah patah hati itu tak berbekas. Bersamamu, kutemui hal yang menyempurnakan hati. Dicintai olehmu kurasakan seperti sebuah rumah yang menawarkan tempat kembali pulang.

oh tuhan kucinta dia, kusayang dia, 

Hujan nyaris reda. Menyisakan gerimis dan aroma petrichor hingga ke dalam cafe. Cokelat panasku tersisa seteguk lagi. Ini saatnya bersiap untuk pulang. Tapi mungkin sebentar lagi. Ada yang harus kulakukan sebelum aku beranjak. Sesuatu yang datang tiba-tiba dan begitu keras menghantam dada. Rindu. Aku merindukanmu. Setidaknya aku ingin mendengarkan suara mu untuk sedikit meredamkan gemuruh rindu itu.

rindu dia, inginkan dia

"Halo, sayang.. kamu udah makan?"
"...."
"um.. belum. aku belum sampai rumah. Hujan, jadi lagi berteduh di cafe "
"...."
"oh, benarkah? maklum udah masuk musim baru. oh iya, besok kamu sibuk?"
"...."
"aku kangen.."
"...."
"beneran..??"
"..."
"oke, besok aku tunggu dirumah yaa.. eh hujannya udah reda nih. aku pulang dulu ya. nanti aku kabarin lagi kalau uda sampai.."
"..."
"hu um.."
"...."
"iya, bye.. ah, sayang satu lagi.." 

utuhkanlah rasa cinta dihatiku hanya padanya, untuk dia

" aku mencintaimu..."

hanya padanya, untuk dia



D.22.09.16

12/17/2015

Tentang Akan Seperti Apa (Kita) di Hari Esok

Sekali lagi, aku merubah posisi tidurku. Meski lampu sudah dipadamkan, namun masih saja mata ini tak bisa terpejam. Tak peduli dentang jam yang sedari tadi terus bernyanyi-nyanyi. Tak peduli dengan dengan nyanyian malam yang sudah lelah meminta untuk terlelap. Mata ini masih menyalang. Terang.

Malam sudah larut ketika aku memikirkan mu. Semakin larut, bukan semakin lelah namun semakin besar pula gaya magis itu menarikku untuk memutar semua tentangmu layaknya layar lebar yang kita tonton bersama beberapa waktu yang lalu. Malam ini aku mengingatmu dengan baik. Mengingat tiap caramu tersenyum, wajah seriusmu ketika sedang menimbang sebuah keputusan, caramu menyisir rambut ketika gugup atau detil parasmu ketika tertawa. Dan semua percakapan kita tempo hari terus menggema. Tentang mimpi-mimpi yang ingin kita capai bersama. Tentang menjawab tanda tanya kehidupan. Tentang hidup. Tentang akan seperti apa kita jalani esok hari. Pembicaraan ringan yang diselingi tawa namun begitu memiliki arti bagi kita. Setidaknya untukku saat itu.

Ada setidaknya 551 malam kita lalui bersama sejak kita memutuskan untuk saling berbagi dan malam itu kita melaluinya dengan amat sangat manis. Melukis mimpi, merancang asa, mencoba mengukir nasib dan melirihkannya dalam nyanyian terbaik kepada Tuhan agar menjadi sebuah takdir. Indah. bahkan kata indah sekalipun terlampau sederhana untuk semuanya.

Semakin larut, suara-suara pembicaraan kita semakin jernih menggema namun begitu jauh tak terjangkau. jauh. ntah karena apa. menjadikan jantungku berdegup kencang akibat spekulasi-spekulasi semu tentang seperti apa hari esok. Mungkin hal tersebut juga yang menyebabkanku bermimpi buruk beberapa malam ini. Memikirkan yang seharusnya tak perlu dipikirkan. Membayangkan yang sebenarnya tak seburuk apa yang dibayangkan.

Derit tempat tidur masih menjerit tiap kali aku mengubah posisi tidur untuk mencari kenyamanan. Mencoba mengabaikan suara-suara yang terus menggema. Mencoba mendamaikan hati bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mencoba memberi pengertian, bahwa hidup memanglah tentang ribuan tanda tanya. Akan ada begitu banyak tanda tanya ketika kita melihat jalan di hadapan kita. Yang bisa saja sepintas terlihat indah namun menyembunyikan kepedihan dari luka yang terdalam atau terlihat begitu menakutkan namun siapa sangka di dalamnya terpeluk sejuta keindahan yang melahirkan kebahagiaan.

Sudahlah, ini sudah terlalu larut. Akan seperti apa hari esok, biar saja waktu melukis perlahan tentang mimpi-mimpi kita. Memberikan kesempatan pada mentari bersinar terlebih dahulu. Tak perlu terburu-buru. Tak lagi ingin memikirkan kekhawatiran semu yang lahir dari spekulasi. Sebab padamu, telahkutitipkan sekeping hati dalam kotak kepercayaan. Dan menjadikan setiap tanda tanya kehidupan dirangkai menjadi sebuah cerita tentang kita.


8/12/2015

Hari-Hari Jatuh Cinta dan Menahan Rindu

Dear.. menyenangkan rasanya memutar memori kebersamaan kita seperti kaset rusak difikiranku. Menayangkan berulang-ulang saat kamu tertawa atau tersenyum. Menikmati tiap detil parasmu.
Beginikah jatuh cinta itu? Jatuh dan cinta.
Hari-hari jatuh cinta.. 7 x 24 jam
Tersenyum seperti orang gila setiap mengingat hal konyol yang kamu atau kita lakukan bersama. Dan sapaanmu adalah sesuatu yang selalu dinanti. Entah itu hanya pesan singkat yang mungkin terlalu basi, standar, tidak penting atau apalah namanya bagi orang lain, untuk sekedar dikatakan. Hal-hal yang biasa terdengar luar biasa jika itu dilakukan oleh mu. Dalam kesederhanaan perbuatan yang berjubah ketulusan, menjuntai buah keistimewaan yang ranum ntk kita petik bersama.
Hari-hari jatuh cinta padamu adalah hari-hari menahan rindu..
Pertemuan adalah oase bagi rindu yang kita punya. Menanti sebuah pertemuan, melewati waktu yang berjalan begitu lambat. Seolah ketentuan  1 hari = 24 jam tidak berlaku tanpa sebab. Waktu merangkak pelan sedangkan rindu bak air bah yang memporak-porandakan taman. Hingga keluhan tak kuasa ditahan meski sabar sudah dikedepankan.
Dear.. tidakkah yang kita miliki sekarang terlampau sederhana untuk dijabarkan? Namun mengapa tetap saja masih sulit untuk dijelaskan?
Ahh sudahlah, bukankah tanpa diterangkan, cinta ternyata lebih terang?

Yang jelas, aku mencintaimu. Dan aku tau, dari matamu yang menatapku, kamu pun mencintaiku. Sesederhana itu

11.08.2015; 19.35
_420hari sejak kita memutuskan ntk menghabiskan waktu bersama

4/18/2015

Kamu

Kamu adalah kata yang menari nari setiap mata tertutup dan berubah menjadi bayang bayang hitam disudut ruang hati ketika mata ini terbuka. Kamu adalah apa yang tak mungkin bisa kusentuh, namun layaknya bayangan, mengikuti kemana pun sang tuan berjalan. Aku pernah mencari. Kemana hendak kutemui jika tiba tiba rindu itu kembali. Menjerit meminta sebuah pelukkan. Satu pelukkan saja. Menjadikan nyata dari bayang-bayang hitam yang bersembunyi disudut ruang.
Kamu adalah sebab lain dari lahirnya sajak sajak ku. Mengukir pilar pilar waktu menceritakan tentang hujan yang jatuhi dadaku. Mengalir lalu hilang diujung-ujung penantian yang tak menemui muara. Menguap tak bersisa. Namun hujan yang jatuh, tak turut mereda. Terus bergemuruh, tak peduli jika  dada ini tak lagi sanggup menahannya.
Kamu adalah apa yang selama ini disimpan waktu. Menyebabkan lebam biru ditempat yang seharusnya masih utuh. Melukis dengan pena seolah menceritakan tentang tangis haru. Namun kamu, penipu. Aku pernah bertanya, pada bayang yg tak tersentuh itu, bisakah luka itu  sembuh? Tak lagi menyisakan perih yang menjalari tubuh saat hujan turun dengan bergemuruh.
Dan kini, kamu adalah apa yang kita sebut sebagai kenangan. Yang selalu diantarkan oleh senja pada sebuah kepulangan. Mengeja namamu serupa meraba ukiran dibatang batang pohon kenangan. Hitam. Legam. Kasar tak terhapuskan. Tak lagi basah disebabkan darah. Tak lagi lebam dan membiru. Tidak lagi. Luka itu sembuh meski bagiannya tak lagi utuh.

Kini juga kamu adalah apa yang kulipat rapi sebagai sebuah perjalanan. Menyusunmu dalam sebuah memoar kehidupan yang sempat berserakan. Menyisipkannya dilipatan lipatan hati yang terdalam. Yang tak lagi kusentuh kecuali jika Tuhan yang menuntunkan.

3/25/2015

Kepada Lelaki yang Berkurang Usia (26 Origami Hati)


Selamat Ulang Tahun My Man..
Selamat bertambah umur dan berkurang usia, Dear..
Semoga keberkahan hidup melimpah padamu.
Dengan segala kasih, sayang dan rindu dari tempatku berdiri sekarang, kulantunkan syair untuk Sang MahaCinta agar sudi kiranya selalu memberikanmu kesehatan.. 

kemurahan rizeki..
kemudahan segala urusan duniamu..
kebaikan dalam hidupmu..
kebahagiaan..
kecemerlangan karir..
serta kedewasaan dalam menyikapi hidup..
Aku tak punya apapun untuk kuberikan padamu selain doa dan cinta yang tak sempurna seperti yang kamu harapkan dalam mimpimu. Aku hanya punya itu. Lalu, bersediakah kamu menerimanya?
Dalam sepucuk surat ini aku hadir memelukmu dalam doa dihari bahagiamu. Hari dimana kamu dilahirkan dan disambut tangis bahagia oleh kedua orangtuamu. Dari kertas lusuh yang mungkin akan pias dimakan waktu, aku memangkas jarak, meminta dgn segala kerendahan hati agar sudi kiranya kamu memaklumi keterbatasanku untuk merengkuhmu menggunakan tanganku langsung. Aku minta maaf. Tapi kumohon percayalah sayang, inginku merengkuhmu begitu besar. Membawakan kue ulang tahun dengan lilin menunjukkan usiamu adalah harapan terbesar.
Berbahagialah dihari jadimu sayang.. semoga kamu selalu bersyukur atas nikmat Tuhan yang tak pernah surut untuk para hambanya..

Sekali lagi, selamat ulang tahun cintaku, lelakiku, kekasih hatiku..




26 Origami Hati_11.14.2014

Rindu...

Rindu.. satu kata itu selalu menjadi favorit ku setelah 3 kata yang sering kamu ucapkkan; “ aku mencintai mu”. Satu kata yang mampu membuatku tersenyum bahagia. Membuatku benar benar ingin menghabiskan sisa waktuku untuk menemani harimu.
Hari ini terhitung 281 hari sejak pertama kali kita memutuskan untuk saling berbagi. Dan  ntah berapa ratus kali kata “rindu” itu kita ucapkan. Aku menyukainya, selalu. Satu kata yang selalu menjadikanku merasa dibutuhkan olehmu untuk tetap hidup dengan baik.
Mungkin ini terlalu sederhana bagi kita. Atau mungkin orang lain menganggapnya terlalu berlebihan. Kasmaran. Begitulah kata mereka untuk dua sejoli yang sedang memadu kasih. Terserah. Aku tidak peduli. Biarkan saja orang lain berkata apa tentang kita, yang jelas, aku menyukai setiap kata rindu darimu. Ntah itu melalui pesan singkat atau rengekan manja yang keluar dari bibirmu.
Jika sudah begitu, ingin rasanya aku memangkas jarak, bernegosiasi agar bermurah hati untuk dapat bertemu. Merayu waktu agar bersedia menyediakan tempat untuk rindu. Membiarkan lengan lenganku merengkuhmu dalam kenyamanan. Menjadikan satu rasa yang meronta itu bertemu dalam dekapan.

Aku tau, rindu bukan hal yang mudah untuk ditenangkan. Serupa rengekan anak kecil yang tak kunjung usai sebelum permintaannya terpenuhkan. Akupun merasakan. Nyaris setiap hari. Mengerikan bukan? Ah.. sudahlah. Biarkan saja rindu ini tetap bersarang didada kita. biarkan Ia meronta atau merengek pada jarak dan waktu. Berharap ‘mereka’ bermurah hati pada rindu yang membiru. Hingga akhirnya kita bertemu. Rindu.

Rindu__03.21.20015

1/26/2015

Dongeng Penghantar Tidur (Sepucuk Surat utk Kekasih)

Sayang.. coba dengarkan. Aku punya satu cerita untuk mu. Cerita penghantar tidur. Bukan... ini bukan tentang cinderella yang berdansa dengan pangeran dan kehilangan sepatu kacanya, bukan tentang rapunzel dan rambut panjangnya, bukan tentang putri tidur yang menanti pangerannya, apalagi tentang putri ariel yg rela kehilangan suaranya untuk bisa menjadi manusia dan berada disisi orang yang dicintainya meski akhirnya ia hilang menjadi buih dilautan. Sekali lagi kukatakan,bukan.. ini bukan tentang kisah mereka. Jadi, cobalah mendekat. Rebahlah disampingku. Kamu bisa memejamkan matamu sembari mendengarku bercerita, aku akan menghantarkanmu ke sebuah gerbang mimpi indah yang belum pernah kamu masuki..
Dengarlah...
Ada seorang gadis mencintai seorang lelaki yang tidak pernah sedikit pun terfikir olehnya bisa memiliki hati lelaki itu seindah ini. seorang lelaki yang sejak lama ia kagumi. Manis.. Dia-lelaki itu- begitu manis. Tersenyum dengan lembut, tertawa menularkan kebahagiaan, berkata memberikan kehangatan. Lelaki itu seperti langit. Yang biru mendamaikan, yang luas melingkupi dunia; dunianya. Yang rela meredup agar bintang menunjukkan keindahan malam. Yang bersedia memberi pelangi setelah hujan. Yang menyediakan kehangatan mentari dan kesejukan gerimis pagi. Langit yang indah dengan senja yang menawarkan ketenangan jiwa; jiwanya.

Ada seorang gadis yang mencintai seorang lelaki. Seorang gadis yang tak pernah tau alasan mengapa ia bisa mencintai lelaki itu sedalam ini. Gadis itu menyukai senyumnya, merindui suaranya. Ia menyukai tatapan matanya. Tatapan mata seorang lelaki yang sedang mencintai. Yaa.. tatapan cinta yang begitu hangat selalu terpancar  tiap kali ia menatap gadis itu. Namun, bukan karena itu sang gadis mencintainya. Bukan karena senyumnya, suaranya, mata indahnya atau bahkan wajahnya.
Sang gadis mencintainya karena dirinya. Hanya dirinya.
Mencintai lelaki itu karena semua yang ada padanya.
Umm?? Siapa mereka?? Kamu ingin tau siapa mereka??
Baiklah, aku akan memberi tau mu. Ayo pejamkan kembali mata mu. Kita akan bertemu dengan mereka..
Sayang.. kamu lihat gerbang yang kukatakan diawal cerita  tadi? Sebuah gerbang menuju sebuah taman. Bunga-bunga mekar dengan warna warni yang indah, kupu-kupu yang berterbangan, rumput hijau layaknya permadai nan lembut. Taman itu, taman seribu bunga. Masuklah sayang.. langkahkan kakimu menuju ke dalamnya. Kan kamu temui jawaban apa yang kamu pertanyakan tadi. Tentang seorang gadis dalam ceritaku tadi.
Kamu sudah menemukannya? Ia sedang duduk dibangku taman itu menunggu lelakinya..

Dear, My past (The Last Letter)

Assalamualaikum my Favourite mistake.. my past..
Aku menyapamu dengan segala kerendahan hati dan setangkup rindu akan keakraban kita beberapa puluh hari yg lalu, ah tidak, mungkin hitungan hari itu telas mencapai ratusan. Ya.. aku memang lupa ntah kapan kita terakhir kalinya bercanda bersama.
My past, are you okay? Dear, doaku kan selalu menyertaimu. Ntah sampai kapan nanti kita bertemu, kuharap tak ada lagi rasa sakit itu menggerus kalbu. Nanti, jika suatu saat cerita ini sampai padamu, akankah kamu membacanya sampai akhir? Sampai titik, sampai kata kata ini bosan menceritakan semua tentangmu. Sampai jemariku tak sanggup lagi mengetik namamu.
Dear, aku telah sampai disatu titik dimana naluri pengabdianku mencuat seperti kembang api, meletup mewarnai hitam langit. Dan aku, untuk pertama kalinya bersyukur pada Illahi telah memberikan anugerah itu. Dan untukmu, aku mengucapkan terimakasih banyak krn telah menjadi orang pertama untuk meyakinkanku tetap berjalan dipilihan ini.
Dear, apakah tujuanmu telah tercapai? Masih bolehkah aku mendengar cerita perjalananmu hingga kamu mencapai titik tempatmu berdiri sekarang? Aku.. entahlah.. mungkin merindukanmu. Aku ingin mendengar ceritamu, mendengar tawa dan melihatmu bercerita dengan senyum bangga penuh kesombongan itu. Tak kupungkiri sesaat lalu aku sempat melupakanmu. Dan setiap itu berhasil melepaskan apa yg pernah kita lalui bersama, saat itu pula bisikan itu datang dan mengembalikanku ke dimensi dimana ada kamu dibalik senyum dan tangisku. Ntah apa penyebabnya.
Sayang? Tidak, tentu saja itu tidak lagi menjadi penghuni hatiku.  Aku sudah berbenah dan melipat rapi tentangmu disudut lipatan terdalam hatiku. aku tak ingin kembali kecuali membukanya untuk sekedar mengenang krn siapa aku bisa berubah sejauh ini. Singgahlah sesekali. Tidak untuk menepi namun hanya menyapa. Aku ingin mendengarmu bercerita dgn penuh gebu. Aku ingin bisa melihatmu yg tersenyum angkuh seperti masa itu. Singgahlah sebentar. Singgahlah, dan biarkan kita menghabiskan senja sehari saja dengan cerita cerita sehangat dan semanis coklat panas.

1/25/2015

Selaksa Rindu di Kaki Langit Senja

Assalamualaikum langit, Apa kabar senjaku dikejauhan? Disini, secangkir kafein menguar aroma pekat kerinduan yang tak bertuan. Menyublin ke udara bebas, membelenggu penciuman.

Bahasa yang diam tak berarti ia tak mengatakan. Ketika dari kejauahan siluet yang dirindukan begitu jelas tergambar dikanvas Tuhan, lirih bibir melantunkan permohonan.

Apalagi yang mampu diri lakukan? Ketika tangan tak sampai untuk merengkuh, maka doalah satu satunya yang mampu mempertemukan. Dalam balutan kasih sayang, kita bertemu dalam waktu waktu terbaik bertemu Tuhan.

Kita titipkan rindu dalam lantunan. Lirih merdu hati mendendangkan syair ketenangan. Berharap jarak yang membentang bukan jadi penghalang. Sebab hati yang bertautan menjadi sandaran keyakinan.


Ahh... langit sudah berubah pekat kehitaman. Mega jingga telah menjadi kenangan. Sudahkah senjaku tenggelam dikejauhan?

2/23/2014

Langit

Langit tidak berbicara malam ini,
tidak menangis. tidak berteriak.
Hening, Sunyi. Sepi
Namun, dari langit yang tenang,
aku tau; Ia tidak pernah sama lagi
Dari langit yang membisu,
aku mengerti; Ia tak lagi berkubang dgn luka perih
Dari binar bintang langit, ku pahami;
Ia telah menjemput Kebahagiaannya sendiri

1/25/2014

Dee...

Dee..
ada banyak hal yang tidak bisa kau pungkiri dalam hidup.
salah satunya adalah tanpa gelap, kau tidak akan pernah mengenal terang.

Dee..
ada banyak hal yang tidak bisa kau hindari.
Jika hanya senja satusatunya yang mampu membuatmu damai, justru tanpa kau sadari,
senja  juga yang menjadi satusatunya hal yang paling menyedihkan di detik detik akhir harimu.
Mengapa??
Oh Dee.. lihat dirimu dan jangan tanyakan itu padaku. karena hanya kau yg tau.

Dee..
senja hari ini kembali datang menyapamu dengan segala kepongahannya.
Dengan pijar warna yg menyalang.
Dengan pilar pilar jingganya yg terlukis harapan harapan disetiap sudutnya..

Dee..
kembali saja setelah senja hanya tinggal seberkas jingga.
Jangan ikuti lagi.
Jangan manjakan kata hatimu pada jejak jejak bahkan pada remang remang cahaya yang menggoda jiwa.
Jangan ikuti lagi jejak jejak itu.
Jangan biarkan lagi ia menyesatkan jiwamu.

Dee..
kembalilah sebelum petang menyapa.
Kembalilah lebih awal.
Percayalah bahwa senjamu tak perlu kau nanti kedatangannya,
karena tanpa itu semua, ia akan tetap menyapa mu tuk menghapus lelah.

Kembalilah Dee..
Tinggalkan semua.
Kembalilah sebelum malam menjelang.
Kembali sebelum kau tersesat lebih jauh dalam kepekatan malam.

1/04/2014

Hujan dan Secangkir Vanilla Latte

Tak banyak yg bisa ku tuliskan. Hanya tentang seberkas embun yg menempel dikaca kaca jendela dan bias hujan yg menghujam atap rumah dan beberapa tumbuhan disekitarnya. Terbang bersama hembusan angin dari utara.

Gemuruh, guntur dan teriakan anak anak bermain dibawah guyuran hujan menjadi musik alam yg ku nikmati saat ini. Ditemani secangkir Vanilla Latte hangat, jemari ku manari diatas huruf huruf  keyboard menceritakan ttg mereka.

Ahhh.. tidak ada yg istimewa.. ya.. tidak ada yg istimewa. Hanya hujan biasa menjelang Zuhur. Tapi bagi mereka, ini merupakan hal yg mengasyikkan. Ketika ibu ibu mereka sedang tenggelam didapur dapur panas menyiapkan makan siang untuk keluarganya, anak anak itu turut mengambil kesempatan ntk tenggelam dalam canda tawa, berlari kesana kemari, berteriak dalam pelukan hujan yg tak kunjung mencapai akhir. Bahkan teguran gemuruh tak menghentikan mereka untuk menghentikan aksi mereka dalam hujan.
 Ahh... Anak- anak..

                “Putriiii... jangan main hujan.. ayo pulangg..!!”
                “Iyaaaa Bundaaaa... Sebentar lagiii..”


Suara teriakan itu tak urung ku dengar dibalik deras hujan yg turun. Seorang ibu dengan kain celemek masih menempel dibadannya keluar memanggil si anak ntk pulang. Dan si anak?? Jangan ditanya. Hanya menjawab sepintasnya  lalu berlari lagi dengan teman teman sebaya sambil tertawa ria. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah. Tak dihiraukannya ibunya yg menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah si anak.

Mereka masih saja berlari lari, bermain dalam hujan. Tertawa lepas tanpa menghiraukan dingin yg membuat sekujur tubuh mereka menggigil tanpa ampun.

                “Aduuhhh...”

Lirih ku dengar suara mengaduh itu berasal dari seorang anak dengan rambut kuncir kuda yg sudah kuyup dan bibir yg bergetar menahan dingin. Gadis itu tersungkur ntah karena apa. Tadinya ku fikir ia akan langsung menangis sambil memegangi lututnya yg terluka dan mengeluarakan cairan merah yg tersapu hujan, lalu teman temannya menghampiri ntk menenangkan tangisnya.  Tapi ternyata fikirku terlalu mendramatisir. Ia justru berdiri dan kembali berlari mengejar ketertinggalan  dari teman temannya seolah ia tidak pernah terjatuh dan terluka..

                “Heiiii... tunggu akuu..”

Ahh.. dasar anak anak... Menikmati setiap waktunya hanya dengan tertawa. Tak peduli berapa kali ia terjatuh, berapa luka yg ia peroleh, ia akan bangkit dan kembali berlari seolah tak jera. Tak peduli siapa yg akan melarang,  kelakuan apa yg membuatnya dimarahi dan karena apa ia menangis, beberapa waktu kemudian ia akan tertawa lagi.

 Aku tersenyum miris. Nanti, 10 tahun atau lebih, masih mampukah ia melakukan hal yg sama seperti sekarang.?? Jatuh, tidak peduli seberapa dalam dan terluka seberapa parah, ia akan bangkit tanpa menangis lalu berlari kembali menganggap semua baik baik saja.. bisakah??

Aku menghela nafas panjang, ,lalu Ku sesap kembali Vanilla Latte yg tinggal setengah. Perpaduan kelembutan dan manisnya kream menyeruak dalam rongga mulutku. Dan di ujung rasa hanya tertinggal pahit espresso yg tak terlalu mendominasi.  Aku tersenyum lagi. Namun kali ini berbeda.  Senyum yg membuatku menelan pil rindu kembali ke masa dimana aku berada diposisi mereka.  Masa bermain dan tertawa lepas.
Aku.. benar benar merindui dimana aku bebas menangis mengekspresikan rasa sakit. Bebas tertawa mengekspresikan rasa bahagia.  Bebas marah untuk mengekspresikan rasa tak  suka tanpa harus berfikir aku nanti akan menyakiti orang lain..

Hujan semakin menipis menyisakan gerimis. Namun dingin dan suara tawa mereka tak kunjung ku temukan tanda tanda akan berhenti.  Sesekali mereka menyapaku yg tengah asyik menyaksikan kelakar mereka dibalik tirai gerimis hingga seruan Tuhanku berkumandang dari pilar yg menjulang.

Huuffttt...sudah. kini saatnya kembali ke masa kini. Tegukan terakhir Vanilla Latte telah mencapai tenggorokanku. Bergegas diri menyimpan catatan kecil hasil dari tarian jemariku. Menutup semua aplikasi yg ku buka dan beranjak dari tempat bersantai disela sela waktu. Bersiap bertemu sang pencipta.
Hujan tadi masih saja menyisakan gerimis ntk menyembunyikan matahari dan sengat panasnya. Dingin.. semoga pertemuan ku dengan Sang Pencipta mengubah dingin itu menjadi hangat.

                “Kalian tidak sholat?? Sudah azan lhoo.. ayo bergegas. Nanti main lagi.. “ ujar ku pada mereka sebelum masuk kedalam.
                “ iya kaaakkk..” jawab mereka kompak seperti paduan suara. 

Dan aku yakin.. arti dari jawaban mereka itu bukan  mematuhi apa yg aku katakan. Melainkan sebuah jawaban bahwa mereka mendengar apa yg ku katakan..

ahhh..  Dasar Anak- Anak...

04 Januari 2013, 12.49WIB

1/03/2014

Secangkir Kopi Panas

Siapa yg tak kenal dengan minuman yg satu ini. Hitam dengan rasa yg khas. Pahit.

Kopi.. Yaa.. minuman dengan perpaduan rasa pahit dan manis dari gula yg khas dengan aroma yg memikat bagi pecintanya. Minuman yang mengandung kafein ini memang sudah digemari orang orang sejak jaman dulu. Dimana persentase konsumsi kopi bagi orang dewasa mampu mencapai 80-90% setiap harinya dan diminum hampir jutaan orang. Bagi mereka merupakan suatu kenikmatan tersendiri dalam menikmati secangkir kopi disetiap harinya. 
Pada jaman sekarang, ada berbagai macam variasi penyajian kopi bagi penikmatnya. Misalnya saja, espresso, kopi yg berasal dari italia ini memiliki perpaduan aroma dan rasa kopi yg begitu kental begitu pas dilidah para penikmat kopi yg meninginkan cita rasa rasa kopi yg dasyat. Untuk menghasilkan espresso hitam pekat dengan aroma menggoda ini, kita harus menyiapkan air bersuhu lebih tinggi dari 1000C yg dipanaskan dengan alat khusus, bukan direbus biasa. Kemudian dialirkan ke bubuk kopi menggunakan saringan kopi. Disini , air panas hanya melewati kopi sehingga mengeluarkan rasa dan aroma kopi tanpa harus membawa ampas kopinya. 
Nah.. bagi mereka yg ingin menikmati kopi namun dengan taste yg lebih halus, bisa mengkombinasikannya dengan kream, coklat atau susu. Seperti Cappucino, 1/3 espresso yg dikombinasikan dengan 1/3 susu dan 1/3 busa susu. Variasi  lainnya adalah Caffe latte, kombinasi espresso dengan susu panas dan Mochaccino yang merupakan kombinasi espresso dengan coklat panas.

Menikmati secangkir kopi dapat dilakukan kapan pun. Pagi, siang, sore maupun malam. Tergantung  penikmat itu sendiri. Seperti saat ini, aku menikmati secangkir Cappucino sembari sedikit bersantai menyaksikan bintang bintang yg bergenit ria memainkan cahayanya padaku. Meresapi setiap cecapan kombinasi pahit manis yg menyapu lembut indera pencecap. Kombinasi yg pas seperti pahit dan manisnya garis kehidupan manusia. Kelembutan busa susu yg pas seperti sentuhan tangan Tuhan dalam menyampaikan Kasih-Nya. Dan taburan bubuk coklat yg manis, semanis goresan takdir diatas perkamen kehidupan. 

Sepotong Hati yang Baru

Apa yg kau ketahui tentang sepotong hati yg baru??
Sepotong hati yg tak lagi punyai bentuk yg sama.
Apa yg kau ketahui ttg sepotong hati yg baru??
Sepotong hati dengan bekas bekas luka yg begitu mencolok mata
Apa yg kau ketahui ttg sepotong hati yg baru??
Sepotong hati yg cacat permanen berbalutkan perban disana sini sudutnya.
Sepotong hati yg baru.. 
yang baru saja tereparasi dan kau malah menambah satu luka lagi diatas bekas bekas luka lamanya.
Sepotong hati yg baru.. 
yang baru saja tereparasi sempurna namun belum cukup kokoh ntk terjamah dan kau justru mengobrak abriknya

Sepotong hati yg baru.. 
yang baru saja selesai tereparasi namun dengan sadarnya kau memperparah bentuknya hingga tak lagi bisa utuh sempurna

12/31/2013

Refleksi dan Intropeksi diri dipenghujung Tahun

Pukul 22. 53 29’.. 30’..31..’ 32’..

Detik  waktu itu akan terus bergerak berubah meninggalkan apa yg sudah dilaluinya. 
Bergerak menyisakan bayang bayang masa lalu menjadi kenangan, satu satunya hal yg dimiliki manusia yg paling jauh ntk dijangkaunya kembali.

Bulan ke 12, 
Minggu ke 52, 
Hari ke 365,
Jam dan detik yg tak pernah ku hitung,
telah terlampaui dengan sejuta cerita asam manis, pahit getirnya perjalanan yg ditapaki.

Lelah??? Tentu saja

Menyerah?? Jangan harap..!!!

Aku akan terus  mengejar semua cita, cinta dan harapan.
Dan nanti, ketika kaki ini cukup lelah, 
aku akan berhenti berlari dan akan melanjutkannya dengan berjalan. 
Namun, ketika berjalan masih cukup lelah, 
aku akan berhenti sesaat untuk mengambil nafas dan mengusap peluh yg menetes.
Berhenti dan diam sejenak  ntk intropeksi dan kembali membangun siasat ntk mengakali, 
bagaimana aku mampu menggenggam angan dalam tangan.

Tidak ada yg istimewa ntk hari ini. karena ya.. tentu saja karena aku tidak mengistimewakannya. 
Sesederhana itu. 
Karena  toh tidak ada bedanya dengan malam malam pergantian hari, 
malam penghujung bulan tgl 31 Mei menuju 1 juni atau lainnya. 
Percayalah,  Sama saja. Malam akan tetap begitu saja. 
Masih gelap. 
Masih bintang dan bulan yg bersarang di langit hitam. 
Dan hari esoknya masih matahari yg menyapa fajar.

 kalian tidak setuju?? Maaf, itu masalah kalian. Terserah saja. Ini pendapatku kan? Kita bebas berargumen.

Terlepas dari semua hingar bingar kemeriahan perpindahan tahun, sorak sorai bahagia, 
Suara terompet dan seribu ledakan kembang api yg nyaris memekakkan telinga, 
itu semua tidak  lebih penting dari merefleksikan dan mengintropeksi diri bahwa selama 365 hari yg telah kita lalui, tiap detik menit jam yg kita lewati, 
sudahkah kita menjadi satu langkah manusia yang lebih baik?? 
Target dan pencapaian apa yg sudah kita raih?? 
Kebaikan apa yg sudah kita bagi?? 
Dan.. keburukan dari diri yg mana yg masih begitu melekat dan mendominasi?? 
Sudahkah kita menyiapkan diri, menyiapkan siasat siasat yg lebih jitu untuk menaklukkan diri sendiri dari keburukan yg masih bersarang dihati??

Sama seperti malam malam sebelumnya dalam tiap sujudku.. dalam doa ku dengan permintaan yg selalu sama..
“Ya Allah.. datangkanlah kepadaku segala kebaikan yg baik menurut-Mu. Jauhkanlah segala keburukan yg mampu merusakku.. Dan ketika kebaikan itu sedang Kau kirimkan melalui proses yg panjang dan tak mudah, maka sudilah Engkau menjadi penyanggah hatiku yg rapuh. Kuatkan aku agar bisa berjalan tegak, berlari dan melompat menggapai bintang ntk kedua orang tua ku..”
“Allah ku.. ntk satu doa yg ku pinta seperti malam malam sebelumnya, sebuah doa yg selalu terselip sebuah nama agar sudi kiranya Kau tuliskan di Lauh Mahfuzh ku sbg pemilik hati ini. Satu nama yg kan menjadi rahasia sejati antara Kau dan aku..”

Semoga hari esok lebih baik bagi kita yg ingin berusaha move ke arah yg lebih baik.

Karena point terpentingnya ntk malam ini adalah bukan tentang ditahun, bulan dan hari apa besok mentari bersinar dan menyapa kita kembali. Namun, apa yg harus kita lakukan ntk memperbaiki diri untuk jadi yg lebih baik dari hari kemarin.

11/06/2013

Nanti, Jika Suatu Hari Nanti..

Jika nanti kita bertemu kembali, apa yang ingin kau katakan padaku??
Jika nanti waktu mengizinkan kita untuk saling menyapa, kata apa yg ingin kau dengar dariku??
Jika nanti takdir memberi kesempatan untuk kita saling berbagi cerita lagi, kisah apa yang akan kau sampaikan padaku??

Masih mungkinkah senyum yang dulu tetap menjadi milik kita?

Masih adakah sorot mata yang saling memuja kan tetap disana?

Masih adakah  serpihan rindu yang kan kita bagi??
                                           ..atau..
Semuanya t'lah berbeda dan Kita hanya akan saling diam, tenggelam dalam keheningan??
              Jika....
                                 Nanti.....
                                                      Kita....
                                 Bertemu...
              Kembali....

Siapa yang kan menjadi Siapa dalam perjamuan Benang Merah Takdir Kita..?

Surat Terakhir Kekasih

Surat ke 1001.. Untaian kata ke seribuan juta.. 
Akhirnya Surat yang ke 1001 inilah yang menjadi surat terkhir ku untukmu. 
Surat yang masih bercerita tentangmu. 
Tentang senyum mu, 
Tentang Hitam bola matamu, 
Tentang parasmu, 
Tentang tatapan teduhmu, 
Tentang hatimu, 
Tentang... semuanya. yaa.. semuanya masih tentangmu 

Namun diantara ke seribujuta kata yang teruntai dalam kerinduan ini, terselip secercah ttg ku. 
Tentang sakit, 
Tentang duka, 
Tentang suka, 
Tentang penantian, 
Tentang keteguhan hati, 
Tentang arti kesabaran yang berduri, 

Dan dipenghujung labirin waktu ini, 
dipenghujung udara yang masih sanggup diterima oleh paru paruku, 
disisa tenaga otot otot jantungku yang semakin melemah, 
aku menyatakan untuk yang terakhir kalinya, 
"Aku Menyayangimu". 
"Semakin.. semakin menyayangimu dan akan lebih lagi disetiap waktunya. 
Aku akan selalu merindukanmu. Sangat.." 
"Kau percaya, kan.?" 

Nanti, jika kertas kusam yang terakhir ini tergenggam dlm jemarimu, 
kumohon jangan pernah ada tanya, 
jangan ada airmata walau itu hanya setetes, 
jangan pernah merasa bersalah, terlebih lagi rasa penyesalan. 
Yang perlu kau lakukan adalah menerimanya dengan sebaik mungkin 
karena ini... adalah takdir antara aku, kamu, dalam menjadi KITA 
bahagialah meski itu tanpa dan bukan bersamaku 
bahagialah karena kebahagiaan ku terletak pada bahagiamu 

11/04/2013

Lesung Pipi, Cacat Otot yang Menawan

                                                  Afgan Syahreza_Si Manis Berlesung Pipi
                                                                

Lesung pipi merupakan lekukan kecil yang terlihat dari kulit epidermis pada pipi beberapa orang, saat mereka tersenyum. Secara genetik, lesung pipi ini diwariskan dan bersifat dominan sehingga Jika ada salah satu orangtua atau kakek neneknya memiliki lesung pipi, maka ada kemungkinan lesung pipi ini akan diturunkan ke generasi berikutnya. Anak-anak yang terlahir dari salah satu orangtua dengan lesung pipi akan memiliki kesempatan sebesar 25-50 persen.

Fenomena lesung pipi ini menurut Dr Joel Pessa, seorang ahli bedah plastik di University of Texas Health Science Center dalam makalah yang diterbitkan jurnal Clinical Anatomy tahun 1998, menuturkan bahwa lesung pipi disebabkan oleh kecacatan dari otot zygomaticus utama, dimana otot  zygomaticus utama tersebut lebih pendek daripada ukuran sebenarnya atau otot ini terbelah menjadi dua, sehingga menyebabkan adanya lekukan pada pipi. Lekukan tersebut muncul akibat efek penarikan kulit wajah ketika seseorang tersenyum atau berbicara. Hal ini diketahui setelah peneliti membedah anatomi wajah 50 mayat yang memiliki lesung pipi.
Kebanyakan lesung pipi muncul dikedua sisi. Namun pada beberapa orang lesung pipi hanya terlihat disatu sisi saja, disebelah kanan atau disebelah  kiri pipi saja. ‘Cacat’ otot ini, bagi orang orang yang memilikinya merupakan berkah dan anugerah tersendiri. Lesung pipi ini menambahkan nilai plus untuk kecantikan atau ketampanan seseorang ketika ia berbicara, tertawa atau tersenyum.
Dan buat temen temen yang tidak memiliki ‘kecacatan’ ini, jangan khawatir. Kalian sudah dan tetap cantik/tampan dengan apa yang ada pada diri kalian. So.. Bersyukurlah dengan apa sudah Allah berikan untuk kita.

Cantik/Tampan dengan atau tanpa Lesung pipi. Like Bruno Mars Say, “ Just the way you’re”.

8/30/2013

Menanti Senja

“ Ar.. kau tau kenapa aku begitu menyukai senja??
Itu karna ia menjadikan langit tak hanya sebatas biru dan hitam. Setiap goresan warnanya menjadikan langit lebih berwarna..”

"Ar.. Kau masih melihatku, kan?? Aku sedari tadi berdiri disini, begitu dekat denganmu. tapi mengapa hanya hamparan permadani biru yang kau tatap??"

“Ar.. tidakkah kau takut akan sesuatu?? karena aku takut lelah  menghampiriku. Dan putus asa menggerogoti jiwaku. Karena senja tak jua kunjung tiba. Sedangkan cahayanya menari nari membesarkan hatiku dengan fatamorgana Oase dipadang pasir..”

“ Kau.. masih mendengarku kan, Ar?? karena sedari tadi aku terus berteriak memanggil namamu..”

“Bicaralah, Ar.. bicaralah walau hanya selirih angin senja ini yang berbisik di telingaku. Bicaralah walau hanya menyebutkan namaku. Karena aku masih disini menanti senja dan menanti kehadiranmu..”
Kau dengar itu, Ar..?? aku disini menanti kehadiran Senja dan Kehadiranmu.

“Ar.. tidakkah bagimu Senja itu begitu indah?? Pernahkah kau melakukannya?? Menanti senja dipenghujung hari. Karena aku selalu menantinya dan kali ini, aku menantinya untukmu. Menantinya di bibir pantai ditemani dengan harapan harapan yang pernah kita goreskan dipilar pilar jingga..”

 “Ar.. kau tau kenapa aku selalu menantikan Senja?? Itu karena ia memberikan kedamaian dipenghujung hariku yang begitu melelahkan. Pancaran jingganya membuatku tenggelam dalam kehangatan.. Dan itu.. Seperti Kau. Ya. Kamu. Dirimu, Ar. Kau seperti Senja bagiku. Dan tetaplah seperti itu agar ku selalu menantinya.”

8/20/2013

Langit dan Senja



“..Nanti, ketika kau sudah siap, aku akan mengajakmu terbang mendahului deru angin. Meninggalkan semuanya dibelakang dan memastikan tidak ada pengaruh atas apa yang telah ditinggalkan..”

Gadis itu menyaksikan sepasang kekasih yang sedang mengukir bahagia dibibiran pantai. Bermain dengan deburan ombak sambil sesekali melemparkan senyum atau tertawa. Entah lelucon apa yang sedang mereka tawakan.  CUKUP.. mungkin sudah cukup ia menyaksikan aura kebahagiaan yang terpancar dari dua sejoli itu. Ia menunduk, takut dirinya akan hancur dan hilang seperti buih ombak jika dia bertahan untuk menyaksikannya lebih lama.
Ia tersenyum, tapi setetes air mata berhasil lolos turun dipipi mulusnya. Dengan cepat kedua tangannya terangkat untuk menghapus cairan bening itu sebelum dua sejoli itu datang menghampirinya.
                “Kau menyayanginya kan??”
Gadis itu terkejut. Dengan refleks kepalanya mengarah ke sumber suara bas yang terdengar ditelinganya. Ia mendengus kesal ketika mengetahui siapa sosok yang berdiri disampingnya
                “Ahh.. sepertinya jawaban dari pertanyaanku tadi adalah iya. Lihat.. kau habis menangis kan..??” laki laki itu bersuara lagi.
                “ck.. Jangan sok tau. Mataku kelilipan pasir..”
                “ Laki laki seperti dia tidak pantas kau tangisi, Senja..”
                “Sudah ku katakan jangan sok tau. Ck.. Apa kau tidak ada hobi lain selain menguntitku kemana mana??”. Laki laki itu tersenyum penuh makna di depan gadisnya. Senyum yang menyimpan begitu banyak rahasia. Senyum yang membuat senja membeku sesaat.
                “Senja, jadi dia orangnya??”. Sepasang kekasih itu kembali menghampiri senja. Sepasang kekasih yang tanpa mereka sadari telah membuat hati senja remuk tak berbentuk.
                “Siapa sih Babe..?”
                “Ini lho, Babe. Kemarin Senja cerita ke aku kalau dia punya seseorang yang dia sayangi. Waktu aku tanya siapa, eh dianya gak mau kasih tau. And see.. justru dia malah buat kejutan  buat kita dengan ngajak seseorang itu kesini..”
                “ Bulan, Kau salah Paham. Dia..” Ucapan Senja terpotong ketika ia menyadari ada tangan kekar yang merangkul bahunya.
                “ Kenalin.. aku Langit..” ucap laki laki itu dengan tersenyum geli ketika menyadari tubuh yang dirangkulnya tiba tiba menegang karena terkejut atas tindakannya..
                “Aku,  Bulan Sahabatnya Senja. Dan ini pacar ku, Bintang..”
                “ehm..Bulan dan Bintang.. kalian pasangan yang serasi..”
                “Terimakasih” laki laki yang bernama bintang itu tersenyum tulus.
                “Oh ya.. kalian tidak keberatan kan kalau aku yang akan mengantar senja pulang?? Kami masih ingin jalan jalan..”
                “Ap..Apaa.. tidak... aku.. eh..”
                “ gak pa-pa kok.. kami ngerti. Kalau gitu,  kami duluan ya.. have fun buat kalian”
                “Bulan tunggu.. aku ikut kalian..”
Langit tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah dua sejoli yang baru saja meninggalkan mereka, sedangkan tangan satunya masih belum juga melapas rangkulan dibahu Senja.
                “ Langit.. Apaan sih. Lepasin aku sebelum aku melakukan hal yang anarkis..”
Senyum Langit semakin melebar mendengar kalimat ketus dari gadisnya.  Seolah olah ancaman yang dilontarkan Senja berupa gurauan yang membuatnya tertawa.
                “ Aku gak tau kalau kau menyimpan perasaan padaku. Kenapa tidak jujur saja dari kemarin kemarin..”
Senja memutar bola matanya dengan kesal. “ Teruslah bermimpi anak muda..” ia melepas paksa rangkulan Langit dibahunya dan berjalan cepat meninggalkan laki laki itu sendiri.
Lagi. Langit hanya tersenyum melihat kelakuan gadisnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gadis itu berdiri dibibiran pantai dengan tatapan kosong jauh kedepan. Membiarkan deburan deburan ombak pecah di kakinya. Berharap sedikit ketenangan hinggap di hatinya yang perih. Digenggamnya selembar  foto yang kini telah kusut ditangannya. ‘Kenapa rasanya sakit sekali..? inikah yang dinamakan patah hati..?? bahkan untuk bernafas saja begitu sulit.. inikah saatnya aku melepaskanmu??’
                “ Ini.. Minum..” Laki itu menempelkan kaleng soft drink di pipi putih Senja.
                “Ck..Apaan sih.. ngagetin tau gak..”
                “ Makanya jangan melamun. Ngapain sih harapin orang yang jelas jelas uda punya kekasih. Apalagi dia kekasih sahabatmu sendiri.. Move on, dong..”
 “ Kau fikir melakukannya semudah kau mengatakannya..” Gadis  itu menghela nafas panjang.  “Percayalah.. Aku sudah mencoba. Tapi...susah sekali..”
“Ckckckck.. Susah Move on itu dikarenakan kau masih berpegangan dengan apa yang sebenarnya gak pantas ntk kau pegang. Itu sama saja dengan kau berpegangan pada duri yang meski sudah menyebabkan tanganmu berdarah tapi masih saja dipegang..”
Gadis itu tersentak menoleh ke arah laki laki disampingnya. Tersadar akan kata katanya yang memukul telak di hati. Ia menunduk, merasakan matanya menghangat karena cairan didalamnya sebentar lagi akan menuntut keluar. Ia tersadar, menyadari bahwa apa yang dikatakan laki laki itu benar. bahwa ia selama ini masih berpegang dan berharap pada sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk ia pegang dan harapkan.
                “ Apa ini..?” Langit merebut selembar foto yang sejak tadi tergenggam di tangan senja.
                “Langit.. Kembalikan.. itu punyaku.”
Langit berkelit. Diangkatnya foto yang kini ditangannya itu tinggi tinggi.
 “Wahh.. Lihat.. kau culun sekali difoto ini. beda dengan dirimu yang sekarang.. hahaha”
“ Langiiittt.. itu gak lucu. Kembalikan foto itu sekarang..”
“Hahahaha.. ini benar benar lucu. Coba saja kau rebut ini jika kau bisa..”
Mereka berlari disepanjang bibir pantai dengan ombak  yang saling berkejaran seolah olah berrebut untuk menghampiri mereka. Tanpa mereka sadari, nanti ntah kapan, waktu yang telah mereka lalui bersama saat ini menjadi kenangan yang tak bisa mereka lupakan. Sebuah moment yang membuat segalanya berbeda.
Dan tanpa Senja sadari, ia telah menciptakan dan mengukir bahagianya sendiri bersama langit dibibir pantai sore itu. Mengukir bahagia seperti halnya dengan kedua sahabatnya yang tadi sempat ia saksikan. Tertawa, tersenyum, bermain dengan ombak pantai. Ia, gadis itu, telah mengukir cerita bahagianya sendiri bersama seseorang yang jauh lebih layak untuk dia tangisi nanti.
 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                “Langit.. terimakasih” ujar gadis itu sambil tersenyum tulus.
                “never mind. Eh.. tapi Senja.. fotomu tadi, aku tidak tau terjatuh dimana..”
Senja tersenyum. “ gak pa-pa. Foto itu memang tadinya mau dibuang.”
                “nghaa.. kau yakin..?”
                “ya.. aku fikir, sudah saatnya aku benar benar melepaskan apa yang sebenarnya memang bukan untukku. Seperti yang kau katakan tadi, aku masih berpegang dengan yang seharusnya tidak aku pegang. Dan mulai saat ini, duri yang ku genggam dan menyebabkanku berdarah, aku akan melepaskannya..” Senyum gadis itu kembali terukir dengan penuh keyakinan dan harapan.
Langit balas tersenyum padanya. Senyum yang penuh arti. Senyum ketulusan.  Senyum yang menyimpan sejuta rahasia yang hanya dirinya yang tau.
                “Kau tau, nanti, ntah kapan, ketika kau sudah melihatku, aku akan mengajakmu terbang mendahului deru angin. Meninggalkannya dibelakang dan memastikan  tidak ada pengaruh dengan apa yang ia tinggalkan..”
Kening Senja berkerut mendengar ucapan Langit yg tidak ia mengerti sama sekali. Mulutnya terbuka untuk meminta penjelasan lanjut tentang maksud laki laki itu.
                “Sudahlah.. ayo pulang..” ujar laki laki itu sambil mengacak rambut senja.
                “ nghaa.. pulang?? Tapi aku ingin melihat matahari tenggelam..”
                “bukankah kau sudah sering melihatnya..?” tanya langit sambil berjalan memunggungi senja
                “ iya, tapi aku masih ingin melihatnya. Sunset dan senja disini indah, ngit.. tunggu bentar lagi yaa..” bujuk gadis itu sambil berusaha mengimbangi langkahnya dengan Langit.
                “enggak.. aku mau pulang. Terserah kau mau ikut dengan ku atau tidak..”
                “Langitt.. arrghh... baiklah aku ikut pulang dengan mu.. heii Langiiittt.. tunggu akuu”
                “ cepat sedikit.. dasar siput, lambat sekali kau..”
                “Apa kau bilangg... !!! aduhhh..”
                “astagaa.. ditaruh dimata matamu sampai batu sebesar itu bisa membuatmu terjatuh.. hahahaha..”
                “gak lucu, Langit. Jangan tertawa..!! kau tidak membantu sama sekali..”
                “Terserah aku dong.. hahahaha”
                “Langiitttt.. Awas kau..!!”


‘..Senja.. kau tau, kau terlalu indah untuk disia siakan dengan orang orang yang tak mengerti betapa kau sangat istimewa. Kau tak pantas untuk menangis dan aku berjanji, akan terus membuatmu berwarna tanpa ada lagi awan kelabu yang menyelimutimu...’
‘..Senja.. tidakkah kau tau bahwa kau mempesona?? Kau, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu membuatku berwarna. Yaa.. membuat langit jauh
lebih berwarna. Tidak hanya biru, hitam dan putih..’