2/03/2013

Metabolit Skunder pada Rosella (Hibiscus sabdariffa)


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
                Metabolit sekunder merupakan senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organism dan ditemukan dalam bentuk yang berbeda-beda antara spesies yang satu engan yang lainnya. Bagi spesies itu sendiri, senyawa senyawa metabolit skunder ini digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Salah satu contoh senyawa metabolit skunder yaitu Alkaloid kebanyakan ditemukan pada Angiospermae.
            Pada tanaman Rosella (Hibiscus sabdriffa L), senyawa kimia tersebut memberikan manfaat menyembuhkan bagi yang mengkonsumsinya seperti Menurunkan tekanan darah, kadar gula darah, asam urat dan kolesterol tubuh. Berdasarkan penelitian beberapa senyawa tersebut banyak ditemukan pada bagian kelopak bunganya. Yang diantaranya falavonoid gossypetin dan antosianin yang memberi kesan warna merah pada bunga Rosella.



1.2  Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan  metabolit skunder?
2.       Senyawa apa apa saja yang termasuk kedalam metabolit skunder?
3.      Senyawa metaboolit skunder apa yang terkandung dalam Rosella?
4.      Apa manfaat dan peran dari senyawa metabolit skunder pada Rosella?




1.3  Tujuan
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan pengertian dari metabolit skunder serta senyawa senyawanya dan menjelaskan metabolit skunder yang terkandung dalam tanaman Rosella (Hibiscus sabdriffa L) serta perannya dalam kehidupan. Dengan adanya makalah ini, diharapkan mampu menjadi salah satu sumber bagi pembaca dalam menambah wawasannya mengenai metabolit skuder khususnya pada tanaman Rosella (Hibiscus sabdriffa L).





BAB II
ISI

2.1 Metabolit Skunder
2.1.1 Pengertian Metabolit Skunder
         Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam suatu kingdom. Senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal.
         Sebagian besar tanaman penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan senyawa tersebut untuk mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup lain di sekitarnya. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder (seperti: quinon, flavonoid, tanin, dll.) yang membuat tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya. Hal ini disebut sebagai alelopati. Berbagai senyawa metabolit sekunder telah digunakan sebagai obat atau model untuk membuat obat baru, contohnya adalah aspirin yang dibuat berdasarkan asam salisilat yang secara alami terdapat pada tumbuhan tertentu. Manfaat lain dari metabolit sekunder adalah sebagai pestisida dan insektisida, contohnya adalah rotenon dan rotenoid. Beberapa metabolit sekunder lainnya yang telah digunakan dalam memproduksi sabun, parfum, minyak herbal, pewarna, permen karet, dan plastik alami adalah resin, antosianin, tanin, saponin, dan minyak volatile (Sadikin. 2002).


2.1.2 Senyawa Senyawa Metabolit Skunder
         A. Alkaloid
         Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung atom nitrogen yang tersebar secara terbatas pada tumbuhan. Pengelompokan alkaloid biasanya didasarkan pada prekursor pembentuknya. Kebanyakan dibentuk dari asam amino seperti lisin, tirosin, triptofan, histidin dan ornitin. Sebagai contoh, nikotin dibentuk dari ornitin dan asam nikotinat. Beberapa kelompok alkaloid disajikan dalam tulisan ini. Diantaranya adalah kelompok alkaloid benzil isoquinon, seperti: papaverin, berberin, tubokurarin dan morfin.
           Alkaloid dengan struktur inti berupa indol, dikelompokkan sebagai alkaloid indol, seperti: strikhnin dan quinin yang berasa pahit dan merupakan senyawa penolak makan bagi serangga. Kelompok alkaloid pirrolizidin merupakan ester alkaloid pada genus Senecio, seperti: senecionin. Kelompok lain dari alkaloid yang berasal asam amino lisin adalah quinolizidin yang sering disebut sebagai alkaloid lupin karena banyak terdapat pada genus Lupinus. Alkaloid polihidroksi memiliki stereokimia yang mirip dengan gula, sehingga mengganggu kerja enzim glukosidase. Kelompok alkaloid polihidroksi merupakan penolak makan bagi serangga. Beberapa jenis alkaloid merupakan derivat dari asam nikotinat, purin, asam antranilat, poliasetat dan terpenes. Mereka dikelompokkan ke dalam alkaloid purin, seperti: kafein (Ismadi, M. 1993).

           B. Terpenoid
           Terpenoid merupakan kelompok metabolit sekunder terbesar. Saat ini hampir dua puluh ribu jenis terpenoid telah teridentifikasi. Kelompok ini merupakan derivat dari asam mevalonat atau prekursor lain yang serupa dan memiliki keragaman struktur yang sangat banyak. Struktur terpenoid merupakan satu unit isopren (C5H8) atau gabungan lebih dari satu unit isopren, sehingga pengelompokannya didasarkan pada jumlah unit isopren penyusunnya.
           Monoterpenoid umumnya bersifat volatil dan biasanya merupakan penyusun minyak atsiri. Monoterpenoid memberikan aroma yang khas pada tumbuhan. Monoterpenoid dikelompokkan sebagai :
a). asiklik, contoh: geraniol,
 b). monosiklik, contoh: limonene
c). bisiklik, contoh: pinene.
           Untuk mencegah terjadinya keracunan diri (autotoxicity), tumbuhan membentuk tempat penyimpanan khusus. Kelompok terbesar dari terpenoid adalah sesquiterpen yang juga merupakan penyusun minyak atsiri. Contoh yang cukup dikenal dari kelompok ini adalah poligodial dan warburganal yang merupakan zat penolak makan berbagai jenis serangga.
           Diterpenoid, seperti asam resin (misalnya: asam abietat) dari tumbuhan keluarga pinus-pinusan dan klerodan (misalnya: ajugarin dari tumbuhan Ajuga remota) merupakan zat penolak makan bagi serangga. Triterpenoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang tersebar luas dan beragam. Perwujudan dari senyawa ini dapat berupa resin, kutin maupun semacam gabus. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah limonoid (misalnya: azadirachtin), lantaden, dan cucurbitacin (misalnya: cucurbitacin B). Azadirachtin terkenal sebagai zat penolak makan yang sangat kuat bagi serangga. Demikian juga dengan cucurbitacin.

C.Fenolik
            Felonik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi (OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya. Senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol kebanyakan memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol. Fenol biasanya dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada kerangka penyusunnya.
            Kelompok terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang merupakan senyawa yang secara umum dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu jenis tumbuhan mengandung beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan memiliki profil flavonoid yang khas. Kerangka penyusun flavonoid adalah C6–C3–C6. Inti flavonoid biasanya berikatan dengan gugusan gula sehingga membentuk glikosida yang larut dalam air. Pada tumbuhan, flavonoid biasanya disimpan dalam vakuola sel. Secara umum, flavonoid dikelompokkan lagi menjadi kelompok yang lebih kecil (sub kelompok), yaitu:
(1)   flavon, contoh: luteolin,
(2)    flavanon, contoh: naringenin,
(3)    flavonol, contoh: kaempferol,
(4)   Antosianin
(5)   calkon.

      Beberapa jenis flavon, flavanon dan flavonol menyerap cahaya tampak, sehingga membuat bunga dan bagian tumbuhan yang lain berwarna kuning atau krem terang. Sedangkan jenis-jenis yang tidak berwarna merupakan zat penolak makan bagi serangga (contoh: katecin) ataupun merupakan racun (contoh: rotenon). Rutin, yang merupakan glikosida flavonol yang tersebar di hampir semua jenis tumbuhan, juga merupakan zat penolak makan yang kuat bagi serangga polifagus, seperti Schistocerca americana.
Tanin merupakan senyawa polifenol dengan berat molekul antara 500 sampai dengan 20000 dalton. Pada sel tumbuhan, tanin selalu berikatan dengan protein sehingga disebut merupakan zat yang menurunkan nilai nutrisi dari jaringan tumbuhan bagi pemakannya.

D. Glukosinolat dan sianogenik
      Glukosinolat merupakan metabolit sekunder yang dibentuk dari beberapa asam amino dan terdapat secara umum pada Cruciferae (Brassicaceae). Glukosinolat dikelompokkan menjadi setidaknya 3 kelompok, yakni:
(1). glukosinolat alifatik (contoh: sinigrin), terbentuk dari asam amino alifatik (biasanya metionin),
(2) glukosinolat aromatik (contoh: sinalbin), terbentuk dari asam amino aromatik (fenilalanin atau tirosin) dan
(3) glukosinolat indol, yang terbentuk dari asam amino indol (triptofan).
      Keragaman jenis glukosinolat tergantung pada modifikasi ikatannya dengan gugus lain melalui hidroksilasi, metilasi dan desaturasi. Hidrolilis dari glukosinolat terjadi karena adanya enzim mirosinase, sehingga menghasilkan beberapa senyawa beracun seperti isotiosianat, tiosianat, nitril, dan epitionitril.
      Sedangkan Sianogenik, semua jenis tumbuhan mempunyai kemampuan untuk mensintesis glikosida sianogenik. Namun, tidak semua jenis tumbuhan mengumpulkan senyawa ini dalam sel-selnya. Pada famili Rosaceae, senyawa ini disimpan pada vakuola. Pada saat sel tumbuhan dirusak, glikosida sianogenik akan dihidrolisis secara enzimatis menghasilkan asam sianida (HCN) yang sangat beracun dan merupakan zat penolak makan serangga dengan spektrum yang luas.

2.1                         Rosella (Hibiscus sabdriffa L)
          Tanaman Rosella merupakan tanaman sejenis perdu yang mudah ditanam. Cara penanamannya dengan menggunakan biji yang kering kemudian disemai. Tanaman ini memiliki tinggi ± 0,5 – 5 m dan hampir sepanjang tahun mengeluarkan bunga. Tanaman muda memiliki batang dan berdaun hijau, namun saat mulai dewasa dan berbunga batangnya berubah menjadi coklat kemerahan. Batang tanaman ini berbentuk silindris dan berkayu dengan banyak cabang. Daun melekat pada batang dengan susunan berseling dengan warna hijau berbentuk bulat telur dan menjari dengan tepi bergerigi.

Bunga muncul pada ketiak daun dengan mahkota berbentuk corong yang tersusun dari lima helai mahkota dan dilengkapi dengan 8-12 kelopak tambahan. Tanaman ini akan mulai berbunga pada saat usia 2,5 – 3 bulan. Awalnya bunga berwarna merah muda dan belum menyerupai bunga yang sudah matang. Dua minggu kemudian bunga rosella muda berwarna hijau dengan jari-jari tipis berwarna merah dan berbentuk bulat kecil. Selama pertumbuhan ini, kelopak akan semakin besar, kaku, menebal dan warna berubah menjadi merah cerah, terdapat putik dan benang sari.


2.2.1 Kandungan Kimia dalam Rosella
Kandungan kimia pada rosella tersebar diseluruh bagian tanaman ini. Berdasarkan penelitian, pada ekstrak kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdriffa L.) mengandung flavonoid, polisakarida dan asam asam organic yang berperan dalam member efek farmakologis tertentu. Flavonoid pada Rosella terdiri dari flavanol dan pigmen antosianin yang berada pada kelopak Rosella dalam bentuk glukosida yang terdiri cyanidin-3-sambubioside, delphinidin-3-glucose, dan delphinidin-3-sambubioside. Sementara itu flavonol terdiri dari gossypetin, hibiscetin, quercetia (mardiah, dkk. 2009).
Kelopak bunga Rosella juga mengandung Alkaloid, asam sitrat, polifenol,galaktosa pectin,polisakarida dan mukopolisakarida. Zat gizi lain yang tak kalah penting terkandung dalam kelopak bunga rosella adalah kalsium, niasin, riboflavin dan besi yang cukup tinggi.
Selain itu kelopak bunga Rosella mengandung 1,12% protein, 12% serat kasar, vitamin C dan Vitamin A.


2.2.2 Manfaat dan Peran Rosella
Manfaat bunga Rosella berdasarkan dari hasil penelitian dapat melawan radikal bebas. Radikal bebas adalah perusak sel tubuh yang menyebabkan sel mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Daun, buah, dan bijinya juga berperan sebagai diuretik, antisariawan, dan pereda nyeri. Kelopak Rosella juga dapat mengatasi panas dalam, sariawan, kolesterol tinggi, hipertensi, gangguan jantung, sembelit, mengurangi resiko osteoporosis, dan mencegah kanker darah.
Peran bunga Rosella dalam berbagai kehidupan sehari hari dapat dilihat bagi penderita diabetes. Dimana senyawa metabolit skunder pada kelopak bunga rosella yaitu flavoniod mampu memicu atau merangsang  sel beta pada kelenjar pancreas sehingga meningkatkan insulin pada tubuh. Sedangkan antosianin, Vitamin C, glucosidal hibiscin berperan sebagai antioksidan kuat yang mampu melawan radikal bebas. Khusus untuk anak-anak karena bunga rosella mengandung OMEGA3, maka dapat memacu pertumbuhan DHA. Luar biasanya bunga rosella merah dapat juga membantu para pecandu. Misal perokok dapat mengurangi dampak negatif nikotin. Atau bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan akan narkoba.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Metabolit sekunder merupakan senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organism dimana fungsi utamanya bagi organism yakni untuk mempertahankan dirinya dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Senyawa senyawa kimia metabolis skunder ini yaitu alkaloid, terpenoid, fenolik, glukosinula, dan sianogenik.
Bagi manusia, beberapa dari senyawa dari metabolit skunder memiliki manfaat tersendiri dalam penyembuhan berbagai penyakit. Misal, senyawa metabolit skunder yang terkandung dalam bunga Rosella (Hibiscus sabdriffa L.) bunga tanaman hias ini mengandung flavonoid yang mampu menurunkan kadar gula darah manusia. Selain itu bkelopak bunga ini mengandung antosianin, Vitamin C, glucosidal hibiscin yang berfungsi sebagai antioksidan dan menghambat pertumbuahn kanker.


3.2 Saran

Rosella bisa menjadi salah satu obat alami yg dapat diuji kebenarannya untuk menyembuhkan penyakit diabetes, pencegah kanker, dan beberapa penyakit lainnya dimana untuk mendapatkannya sangat ekonomis jika dibandingkan pengobatan dengan obat-obat kimia yg berasal dari Rumah sakit atau resep dokter. Jadi, tidak ada salahnya jika kita memanfaatkan  apa yang disediakan alam, terlebih lagi tanaman Rosella ini tidak meimiliki efek samping untuk dikonsumsi




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Manfaat Bunga Rosella. http://myrosella.blogspot.com/2007/10/manfaat-bunga-rosella.html

Anonim. 2007.Manfaat Rosella Merah.http://sehatyuk.blogspot.com/2007/04/manfaat-rosela-merah.html


Anonim.2009.Bunga Rosella Merah.http://rumpunilmu.blogspot.com/2009/04/bunga-rosella-merah.html.
Ismadi, M. 1993.Biokimia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mardiah, Sawarni, H.,R.W. Ashadi., Rahayu.2009.Budi Daya dan Pengolaha Rosella Si Merah Segudang Manfaat.Jakarta: Agromedia Pustaka.

Sadikin. 2002.Dasar – dasar Biokimia.Jakarta:Universitas Indonesia Press.

Komunitas Hewan


BAB I
PENDAHULUAN

I.1  Latar Belakang
Komunitas merupakan kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
            Komunitas mempunyai lima cirri cirri yang telah diukur dan dikaji yaitu:
1.      Keanekaragaman spesies
2.      Bentuk dan sttruktur pertumbuhan
3.      Dominansi
4.      Kelimpahan relative nisbi
5.      Structure tropic


I.2  Tujuan
            Tujuan penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.      Mengetahui dan memahami pengertian komunitas
2.       Mengetahui dan memahami cirri cirri komunitas
3.      Mengetahui dan memahami mencari indeks keanekaragaman Shannon-Wiener
4.      Mengetahui dan memahami suksesi pada hewan
5.      Mengetahui dan memahami  interaksi antar spesies anggota populasi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunitas
 Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan, misalnya populasi semut, populasi kutu daun, dan pohon tempat mereka hidup membentuk suatu masyarakat atau suatu komunitas.   Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapatlah diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut.  Komunitas dengan populasi ibarat makhluk dengan sistem organnya, tetapi dengan tingkat organisasi yang lebih tinggi sehingga memiliki sifat yang khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh baik sistem organ maupun organisasi hidup lainnya.( Soedjiran Resosoedarmo, 1990)
 Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu komunitas padat sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya.  Namun, perubahan akan selalu terjadi.  Oleh karena itu, komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat dicapai.  Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya penghuni yang pertama.
 
Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi makhluk hidup lain, juga mengalami serta menjalani siklus hidup. Komunitas Ditinjau dari segi fungsinya, tumbuhan dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memunuhi kebutuhan hidupnya dalam kumpulana ini terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk suatau derajat keterpaduan. Kelompok seperti itu yang tumbuhan dan hewannya secara bersama telah menyesuaikan diri dan mempunyai suatu tempat alami disebut komunitas. Konsep komunitas cukup jelas, tetapi sering kali pengenalan dan penentuan batas komunitas tidaklah mudah. (Suwasono Heddy, 1986)

2.2 Ciri Ciri Komunitas
2.2.1 Keanekaragaman Spesies (Diversitas)
            Kepadatan individu dalam suatu populasi langsung dapat dikaitkan dengan pengertian keanekaragaman.  Istilah ini dapat diterapkan pada pelbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu komunitas.  Misalnya, keanekaragaman di dalam spesies, keanekaragaman dalam pola penyebaran.  Margalef (1958) mengemukakan bahwa untuk menentukan keanekaragaman komunitas perli dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam organisasi komunitasnya.  Misalnya mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya, menempatkan spesies tersebut ke dalam habitatnya, menentukan kepadatan relatifnya dalam habitat tersebut  dan menempatkan setiap individu ke dalam tiap habitatnya dan menentukan fungsinya. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitsas tersebut.  Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaannya sehingga keadaannya lebih mantap.  (M. Ruslan Umar, 2004)
Ada dua konsep keanekaragaman spesies yang terdapat dalam komunitas,yakni



1.       Kekayaan spesies (spesies richness) : yakni jumlah cacahspesies yang ada di komunitas tersebut. Konsep keanekaragaman Margalef dinyatakan sebagai berikut :
                   Dimana :   S = jumlah spesies yang ada pada komunitas
                                    N = jumlah total individu yang terdalam dalam komunitas

2.      Heterogenitas
                   Merupakan penggabungan dari konsep kelimpahan relative.artinyadalam menganalisa keanekaragaman spesies yang terdapat didalam komunitas, disamping factor jumlah spesies yang ada di dalam komunitas tersebut, factor kelimpahan relatifdarimasing masing spesies yang terdapat pada komunitas tersebut turut diperhitungkan. Indeks keanekaragaman Shanon-Wiener dinyatakan sebagai berikut :
Dimana : ni      =  jumlah dari spesies 1 yang terdapat dalam komunitas tersebut
                N     = jumlah total dari semua spesies yang terdapat dalam komunitas
                H’    = Indeks keanekaragaman

Sehingga untukrumus Indeks equitabilitas dinyatakan :


Rounded Rectangle: E = H’ / H’ Max
 



Untuk E          = indeks Equitabilitas
            H’        = Indeks keanekaragaman
            Daerah tropika sering disebut sebagai daerah keanekaragaman spesies yang tinggi, termasuk Indonesia. Hal inidijelaskan oleh sejumlah hipotesis oleh para ahli, yakni sebagai berikut:
1.      Hipotesis hipotesis ekilibrium, yang meliputi :
a)      Laju di daerah tropika lebih tinggi karena populasinya yang bersifat sedenter (mobilitas rendah) dan evolusi yang terjadi di daerah tropikaberlangsung lebih cepat. Hal ini disebabkan karena produktivitasnya yang tinggi.
b)      Laju kepunahan di daerah tropika rendah dikarenakan persaingan yang kurang keras akibat ketersediaan sumber daya yang melimpah dan heterogenitas ruang lebih tinggi.
2.      Hipotesis Non-ekilibrium
Yakni suatu hipotesis yang mengemukakan tidak ada hubungannya dengan keseimbangan. Hipotesis ini meliputi :
-          Hipotesis waktu : daerah tropika relative berusia lebih tua dan lebih stabil dibandingkan dengan daerah lainnya.
-          Komunitas komunitas tropika lebih banyak waktu untuk berkembang menghasilkan lebih banyak spesies.

2.1.2        Struktur Komunitas
Struktur komunitas dapat dibedakan menjadi struktur fisik da struktur biologi. Struktur fisik merupakan struktur yang tampak pada komunitas itu,bila mana komunitas itu diamati atau dikunjungi. Sedangkan struktur biologi meliputi komposisi spesies, perubahan temporaldalam komunitas dan hubungan antar spesies dalam suatu komunitas.
Berdasarkan fedelitasnya, spesies yang menyususn pada suatu kominitas dapat dibedakan sebagai berikut :
1.      Eksklusif, yakni jika suatu spesies itu hanya ada disuatu daerah tunggal atau komunitas tunggal.
2.      Karakteristik ( preferensial), yakni jika spesies tersebut melimpah dalam suatu daerah namun juga terdapat didaerah lain dalam jumlah kecil.
3.      Ubiquitos, yakni jika suatu spesies penyebarannya sama dalam berbagai komunitas.
4.      Predominant, jika jumlah individu suatu spesies lebih besar atau sama dengan 10% dari jumlah individu keseluruhan spesies yang ada dalam komunitas tersebut.
2.2.3 Dominansi
               Dominansi merupakanpengendalian nisbi yang diterapkan makhluk hidup atas komposisi spesies dalam komunitasnya.  Spesies dominan adalah spesies yang secara ekoligik sangant berhasil dan yang mampu menentukan kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Atau spesies yang paling berpengaruh dan yang mampu dari jumlah maupun aktivitasnya dalam komunitas.. derajat dominansi terpusat didalam satu, beberapa atau banyak spesies dapat dinyatakan dengan indeks dominansi, yaitu jimlah kepentingan tiap-tiap spesies dalam hubungandengan komunitas secara keseluruhan.

2.2.4 Suksesi dan Klimaks
               Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang
berbeda dengan komunitas semula. Dengan kata lain, suksesi dapat diartikan sebagai
perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai
akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Ketika habitat berubah,
spesies yang baru akan datang menyerbu untuk menjadi mantap di tempat itu, dan spesies
yang lama akan menghilang.

               Suksesi akan berlangsung secara terus menerus hingga mencapai suatu tingkat akhir yang disebut dengan klimaks. Pada keadaan klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis, artinya komunitas dapat mempertahankan kestabilan internalnya dalam menanggapi respon terhadap factor lingkungan. Deretan langkah atau deretan komunitas yang menyusunurutan suksesional yang menuntun kearah klimaks disebut sere.( Tim Dosen, 2012).
               Dalam kasus Suksesi hewan, akan terjadi suksesi tumbuhan terlebih dahulu pada komunitas tersebut lalu di ikuti oleh munculnya suksesi hewan. Hal ini disebabkan karena tumbuhan merupakan makhluk autotrof yang menyediakan sumber energy bagi hewan tersebut. Ketersediaan sumberdaya pada komunitas terjadinya suksesi sangant mempengaruhi banyak tidaknya hewan yang ditemukan dalam proses suksesi tersebut.
Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam suksesi, yaitu
suksesi primer dan suksesi sekunder.
a)       Suksesi Primer
               Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan
komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan tersebut dapat
terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat
berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai.
Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara,
timah, dan minyak bumi).
Tahapannya terjadinya suksesi primer dapat dilihat sebagai berikut:
1. suatu komunitas rusak yang diakibatkan berbagai hal, missal bencana alam letusan gunung berapi.
 
2. Kolonisasi Awal
 Spora lumut, biji tumbuhan atau bakteri autrotrof sebagai organisme
fotosintesis pertama yang muncul akibat terbawa oleh angin dan tertanam di daerah
tersebut.
3. Pertumbuhan pioneer
 Benih-benih yang tumbuh di lahan kosong tumbuh dan
berkembang biak. Jenis organisme yang datang pertama dan menjadi penghuni pemula
di lahan kosong sebagai pioner. Tumbuhan pioner akan membentuk koloni-koloni.
4. Invasi
 Selama proses kolonisasai di tempat yang baru anak-anak dari organisme
pioner yang adaptasinya paling baik terhadap lingkungan mampu bertahan dan terus
menyebar atau mengadakan invasi secara luas.
5. Stabilisasi
 Habitat dan ekosistem yang baru terbentuk terus mengalami perubahan,
baik dalam hal kondisi lingkungan fisik maupun komponen biotik yang menghuninya.
Perubahan akan terus terjadi sampai ekosistem mencapai keaadan yang stabil.
6. Klimaks
Hubungan antara jenis-jenis organisme yang dominan pada komunitas
klimaks dengan habitat atau lingkungannya sudah sangat harmonis, dan komunitas
klimaks ini bersifat stabil atau tudak berubah selama kondisi iklim dan keaadaan
fisiografisnya tetap sama.



b)      Suksesi sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat
merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat
seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari
komunitas pionir. Suksesi sekunder dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, gempa bumi
atau aktivitas manusia.(Anonim, 2012)



















BAB III
KESIMPULAN

·         Komunitas adlah kumpulan/kelompok populasi makhluk hidup dalam suatu habitat yang saling berinteraksi.
·         Komunitas memiliki lima ciri-ciri, yaitu :
1.      Keanekaragaman spesies (diversitas)
2.      Bentuk dan struktur pertumbuhan
3.      Dominansi
4.      Kelimpahan relative nisbi
5.      Struktur tropic
·         Keanekaragaman spesies terdapat 2 konsep, yaitu kekayaan spesies (species richness) dan heterogenitas.
·         Hipotesis para ahli mengenai diversity daerah tropika ada dua, yaitu Hipotesis Ekilibrum (keseimbangan), meliputi laju : a) laju spesialisasi di daerah tropika lebih tinggi dan b) laju kepunahan di daerah tropic lambat, serta Hipotesis Non Ekilibrum, meliputi : a) Hipotesis Waktu, dan b) Komunitas tropic lebih banyak waktu untuk berkembang.
·         Struktur komunitas dapat dibedakan menjadi stuktur fisik dan struktur biologis. Sedangkan berdasarkan fidelitasnya (derajat keterbatasan suatu spesies untuk situasi tertentu ).
·         Berdasarkan fedelitasnya (derajat keterbatasan suatu spesies untuk situasi tertentu), spesies diklasifikasikan atas  5, yaitu : eksklusif, karakteristik, ubiquitos dan predominant.
·         Dominansi merupakan pengendalian nisbi yang diterapkan makhluk hidup atas dan bertahap dari komunitas pada suatu wilayah ekosistem tertentu.
·         Sere adalah seluruh seri komunitas yang terbentuk pada keadaan atau waktu tertentu.
·         Klimaks adalah suatu keadaan seimbang- dinamis dari populasi yang menentukan dalam perjalanan suksesi ekologis yang optimum.

·         Suksesi dibagi menjadi dua yaitu suksesiprimer dan suksesi skunder.
·         Suksesi primer adalah perubahan komunitas yang terjadi pada habitat dimana komunitas awalnya telah hilang secara total.
·          Suksesi sekunder adalah perubahan komunitas yang terjadi bilamana suatu komunitas atau ekosistem mendapat gangguan, baik secara alami maupun secara buatan, akan tetapi gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organism sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada.


















DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.suksesi.http://haeryn.wordpress.com/2012/05/21/suksesi/ (diakses tanggal 19 desember 2012).

Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. Jakarta : CV Rajawali.

Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. Jakarta  :PT Remaja Rosdakarya.

Umar, M. Ruslan. 2004. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Makassar : Universitas Hasanuddin.

Tim Dosen. 2012. Dasar Dasar Ekologi Hewan. Medan : FMIPA Unimed.