2/23/2014

Langit

Langit tidak berbicara malam ini,
tidak menangis. tidak berteriak.
Hening, Sunyi. Sepi
Namun, dari langit yang tenang,
aku tau; Ia tidak pernah sama lagi
Dari langit yang membisu,
aku mengerti; Ia tak lagi berkubang dgn luka perih
Dari binar bintang langit, ku pahami;
Ia telah menjemput Kebahagiaannya sendiri

1/25/2014

Dee...

Dee..
ada banyak hal yang tidak bisa kau pungkiri dalam hidup.
salah satunya adalah tanpa gelap, kau tidak akan pernah mengenal terang.

Dee..
ada banyak hal yang tidak bisa kau hindari.
Jika hanya senja satusatunya yang mampu membuatmu damai, justru tanpa kau sadari,
senja  juga yang menjadi satusatunya hal yang paling menyedihkan di detik detik akhir harimu.
Mengapa??
Oh Dee.. lihat dirimu dan jangan tanyakan itu padaku. karena hanya kau yg tau.

Dee..
senja hari ini kembali datang menyapamu dengan segala kepongahannya.
Dengan pijar warna yg menyalang.
Dengan pilar pilar jingganya yg terlukis harapan harapan disetiap sudutnya..

Dee..
kembali saja setelah senja hanya tinggal seberkas jingga.
Jangan ikuti lagi.
Jangan manjakan kata hatimu pada jejak jejak bahkan pada remang remang cahaya yang menggoda jiwa.
Jangan ikuti lagi jejak jejak itu.
Jangan biarkan lagi ia menyesatkan jiwamu.

Dee..
kembalilah sebelum petang menyapa.
Kembalilah lebih awal.
Percayalah bahwa senjamu tak perlu kau nanti kedatangannya,
karena tanpa itu semua, ia akan tetap menyapa mu tuk menghapus lelah.

Kembalilah Dee..
Tinggalkan semua.
Kembalilah sebelum malam menjelang.
Kembali sebelum kau tersesat lebih jauh dalam kepekatan malam.

1/04/2014

Hujan dan Secangkir Vanilla Latte

Tak banyak yg bisa ku tuliskan. Hanya tentang seberkas embun yg menempel dikaca kaca jendela dan bias hujan yg menghujam atap rumah dan beberapa tumbuhan disekitarnya. Terbang bersama hembusan angin dari utara.

Gemuruh, guntur dan teriakan anak anak bermain dibawah guyuran hujan menjadi musik alam yg ku nikmati saat ini. Ditemani secangkir Vanilla Latte hangat, jemari ku manari diatas huruf huruf  keyboard menceritakan ttg mereka.

Ahhh.. tidak ada yg istimewa.. ya.. tidak ada yg istimewa. Hanya hujan biasa menjelang Zuhur. Tapi bagi mereka, ini merupakan hal yg mengasyikkan. Ketika ibu ibu mereka sedang tenggelam didapur dapur panas menyiapkan makan siang untuk keluarganya, anak anak itu turut mengambil kesempatan ntk tenggelam dalam canda tawa, berlari kesana kemari, berteriak dalam pelukan hujan yg tak kunjung mencapai akhir. Bahkan teguran gemuruh tak menghentikan mereka untuk menghentikan aksi mereka dalam hujan.
 Ahh... Anak- anak..

                “Putriiii... jangan main hujan.. ayo pulangg..!!”
                “Iyaaaa Bundaaaa... Sebentar lagiii..”


Suara teriakan itu tak urung ku dengar dibalik deras hujan yg turun. Seorang ibu dengan kain celemek masih menempel dibadannya keluar memanggil si anak ntk pulang. Dan si anak?? Jangan ditanya. Hanya menjawab sepintasnya  lalu berlari lagi dengan teman teman sebaya sambil tertawa ria. Tanpa beban. Tanpa rasa bersalah. Tak dihiraukannya ibunya yg menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah si anak.

Mereka masih saja berlari lari, bermain dalam hujan. Tertawa lepas tanpa menghiraukan dingin yg membuat sekujur tubuh mereka menggigil tanpa ampun.

                “Aduuhhh...”

Lirih ku dengar suara mengaduh itu berasal dari seorang anak dengan rambut kuncir kuda yg sudah kuyup dan bibir yg bergetar menahan dingin. Gadis itu tersungkur ntah karena apa. Tadinya ku fikir ia akan langsung menangis sambil memegangi lututnya yg terluka dan mengeluarakan cairan merah yg tersapu hujan, lalu teman temannya menghampiri ntk menenangkan tangisnya.  Tapi ternyata fikirku terlalu mendramatisir. Ia justru berdiri dan kembali berlari mengejar ketertinggalan  dari teman temannya seolah ia tidak pernah terjatuh dan terluka..

                “Heiiii... tunggu akuu..”

Ahh.. dasar anak anak... Menikmati setiap waktunya hanya dengan tertawa. Tak peduli berapa kali ia terjatuh, berapa luka yg ia peroleh, ia akan bangkit dan kembali berlari seolah tak jera. Tak peduli siapa yg akan melarang,  kelakuan apa yg membuatnya dimarahi dan karena apa ia menangis, beberapa waktu kemudian ia akan tertawa lagi.

 Aku tersenyum miris. Nanti, 10 tahun atau lebih, masih mampukah ia melakukan hal yg sama seperti sekarang.?? Jatuh, tidak peduli seberapa dalam dan terluka seberapa parah, ia akan bangkit tanpa menangis lalu berlari kembali menganggap semua baik baik saja.. bisakah??

Aku menghela nafas panjang, ,lalu Ku sesap kembali Vanilla Latte yg tinggal setengah. Perpaduan kelembutan dan manisnya kream menyeruak dalam rongga mulutku. Dan di ujung rasa hanya tertinggal pahit espresso yg tak terlalu mendominasi.  Aku tersenyum lagi. Namun kali ini berbeda.  Senyum yg membuatku menelan pil rindu kembali ke masa dimana aku berada diposisi mereka.  Masa bermain dan tertawa lepas.
Aku.. benar benar merindui dimana aku bebas menangis mengekspresikan rasa sakit. Bebas tertawa mengekspresikan rasa bahagia.  Bebas marah untuk mengekspresikan rasa tak  suka tanpa harus berfikir aku nanti akan menyakiti orang lain..

Hujan semakin menipis menyisakan gerimis. Namun dingin dan suara tawa mereka tak kunjung ku temukan tanda tanda akan berhenti.  Sesekali mereka menyapaku yg tengah asyik menyaksikan kelakar mereka dibalik tirai gerimis hingga seruan Tuhanku berkumandang dari pilar yg menjulang.

Huuffttt...sudah. kini saatnya kembali ke masa kini. Tegukan terakhir Vanilla Latte telah mencapai tenggorokanku. Bergegas diri menyimpan catatan kecil hasil dari tarian jemariku. Menutup semua aplikasi yg ku buka dan beranjak dari tempat bersantai disela sela waktu. Bersiap bertemu sang pencipta.
Hujan tadi masih saja menyisakan gerimis ntk menyembunyikan matahari dan sengat panasnya. Dingin.. semoga pertemuan ku dengan Sang Pencipta mengubah dingin itu menjadi hangat.

                “Kalian tidak sholat?? Sudah azan lhoo.. ayo bergegas. Nanti main lagi.. “ ujar ku pada mereka sebelum masuk kedalam.
                “ iya kaaakkk..” jawab mereka kompak seperti paduan suara. 

Dan aku yakin.. arti dari jawaban mereka itu bukan  mematuhi apa yg aku katakan. Melainkan sebuah jawaban bahwa mereka mendengar apa yg ku katakan..

ahhh..  Dasar Anak- Anak...

04 Januari 2013, 12.49WIB

1/03/2014

Secangkir Kopi Panas

Siapa yg tak kenal dengan minuman yg satu ini. Hitam dengan rasa yg khas. Pahit.

Kopi.. Yaa.. minuman dengan perpaduan rasa pahit dan manis dari gula yg khas dengan aroma yg memikat bagi pecintanya. Minuman yang mengandung kafein ini memang sudah digemari orang orang sejak jaman dulu. Dimana persentase konsumsi kopi bagi orang dewasa mampu mencapai 80-90% setiap harinya dan diminum hampir jutaan orang. Bagi mereka merupakan suatu kenikmatan tersendiri dalam menikmati secangkir kopi disetiap harinya. 
Pada jaman sekarang, ada berbagai macam variasi penyajian kopi bagi penikmatnya. Misalnya saja, espresso, kopi yg berasal dari italia ini memiliki perpaduan aroma dan rasa kopi yg begitu kental begitu pas dilidah para penikmat kopi yg meninginkan cita rasa rasa kopi yg dasyat. Untuk menghasilkan espresso hitam pekat dengan aroma menggoda ini, kita harus menyiapkan air bersuhu lebih tinggi dari 1000C yg dipanaskan dengan alat khusus, bukan direbus biasa. Kemudian dialirkan ke bubuk kopi menggunakan saringan kopi. Disini , air panas hanya melewati kopi sehingga mengeluarkan rasa dan aroma kopi tanpa harus membawa ampas kopinya. 
Nah.. bagi mereka yg ingin menikmati kopi namun dengan taste yg lebih halus, bisa mengkombinasikannya dengan kream, coklat atau susu. Seperti Cappucino, 1/3 espresso yg dikombinasikan dengan 1/3 susu dan 1/3 busa susu. Variasi  lainnya adalah Caffe latte, kombinasi espresso dengan susu panas dan Mochaccino yang merupakan kombinasi espresso dengan coklat panas.

Menikmati secangkir kopi dapat dilakukan kapan pun. Pagi, siang, sore maupun malam. Tergantung  penikmat itu sendiri. Seperti saat ini, aku menikmati secangkir Cappucino sembari sedikit bersantai menyaksikan bintang bintang yg bergenit ria memainkan cahayanya padaku. Meresapi setiap cecapan kombinasi pahit manis yg menyapu lembut indera pencecap. Kombinasi yg pas seperti pahit dan manisnya garis kehidupan manusia. Kelembutan busa susu yg pas seperti sentuhan tangan Tuhan dalam menyampaikan Kasih-Nya. Dan taburan bubuk coklat yg manis, semanis goresan takdir diatas perkamen kehidupan. 

Sepotong Hati yang Baru

Apa yg kau ketahui tentang sepotong hati yg baru??
Sepotong hati yg tak lagi punyai bentuk yg sama.
Apa yg kau ketahui ttg sepotong hati yg baru??
Sepotong hati dengan bekas bekas luka yg begitu mencolok mata
Apa yg kau ketahui ttg sepotong hati yg baru??
Sepotong hati yg cacat permanen berbalutkan perban disana sini sudutnya.
Sepotong hati yg baru.. 
yang baru saja tereparasi dan kau malah menambah satu luka lagi diatas bekas bekas luka lamanya.
Sepotong hati yg baru.. 
yang baru saja tereparasi sempurna namun belum cukup kokoh ntk terjamah dan kau justru mengobrak abriknya

Sepotong hati yg baru.. 
yang baru saja selesai tereparasi namun dengan sadarnya kau memperparah bentuknya hingga tak lagi bisa utuh sempurna

12/31/2013

Refleksi dan Intropeksi diri dipenghujung Tahun

Pukul 22. 53 29’.. 30’..31..’ 32’..

Detik  waktu itu akan terus bergerak berubah meninggalkan apa yg sudah dilaluinya. 
Bergerak menyisakan bayang bayang masa lalu menjadi kenangan, satu satunya hal yg dimiliki manusia yg paling jauh ntk dijangkaunya kembali.

Bulan ke 12, 
Minggu ke 52, 
Hari ke 365,
Jam dan detik yg tak pernah ku hitung,
telah terlampaui dengan sejuta cerita asam manis, pahit getirnya perjalanan yg ditapaki.

Lelah??? Tentu saja

Menyerah?? Jangan harap..!!!

Aku akan terus  mengejar semua cita, cinta dan harapan.
Dan nanti, ketika kaki ini cukup lelah, 
aku akan berhenti berlari dan akan melanjutkannya dengan berjalan. 
Namun, ketika berjalan masih cukup lelah, 
aku akan berhenti sesaat untuk mengambil nafas dan mengusap peluh yg menetes.
Berhenti dan diam sejenak  ntk intropeksi dan kembali membangun siasat ntk mengakali, 
bagaimana aku mampu menggenggam angan dalam tangan.

Tidak ada yg istimewa ntk hari ini. karena ya.. tentu saja karena aku tidak mengistimewakannya. 
Sesederhana itu. 
Karena  toh tidak ada bedanya dengan malam malam pergantian hari, 
malam penghujung bulan tgl 31 Mei menuju 1 juni atau lainnya. 
Percayalah,  Sama saja. Malam akan tetap begitu saja. 
Masih gelap. 
Masih bintang dan bulan yg bersarang di langit hitam. 
Dan hari esoknya masih matahari yg menyapa fajar.

 kalian tidak setuju?? Maaf, itu masalah kalian. Terserah saja. Ini pendapatku kan? Kita bebas berargumen.

Terlepas dari semua hingar bingar kemeriahan perpindahan tahun, sorak sorai bahagia, 
Suara terompet dan seribu ledakan kembang api yg nyaris memekakkan telinga, 
itu semua tidak  lebih penting dari merefleksikan dan mengintropeksi diri bahwa selama 365 hari yg telah kita lalui, tiap detik menit jam yg kita lewati, 
sudahkah kita menjadi satu langkah manusia yang lebih baik?? 
Target dan pencapaian apa yg sudah kita raih?? 
Kebaikan apa yg sudah kita bagi?? 
Dan.. keburukan dari diri yg mana yg masih begitu melekat dan mendominasi?? 
Sudahkah kita menyiapkan diri, menyiapkan siasat siasat yg lebih jitu untuk menaklukkan diri sendiri dari keburukan yg masih bersarang dihati??

Sama seperti malam malam sebelumnya dalam tiap sujudku.. dalam doa ku dengan permintaan yg selalu sama..
“Ya Allah.. datangkanlah kepadaku segala kebaikan yg baik menurut-Mu. Jauhkanlah segala keburukan yg mampu merusakku.. Dan ketika kebaikan itu sedang Kau kirimkan melalui proses yg panjang dan tak mudah, maka sudilah Engkau menjadi penyanggah hatiku yg rapuh. Kuatkan aku agar bisa berjalan tegak, berlari dan melompat menggapai bintang ntk kedua orang tua ku..”
“Allah ku.. ntk satu doa yg ku pinta seperti malam malam sebelumnya, sebuah doa yg selalu terselip sebuah nama agar sudi kiranya Kau tuliskan di Lauh Mahfuzh ku sbg pemilik hati ini. Satu nama yg kan menjadi rahasia sejati antara Kau dan aku..”

Semoga hari esok lebih baik bagi kita yg ingin berusaha move ke arah yg lebih baik.

Karena point terpentingnya ntk malam ini adalah bukan tentang ditahun, bulan dan hari apa besok mentari bersinar dan menyapa kita kembali. Namun, apa yg harus kita lakukan ntk memperbaiki diri untuk jadi yg lebih baik dari hari kemarin.

11/06/2013

Nanti, Jika Suatu Hari Nanti..

Jika nanti kita bertemu kembali, apa yang ingin kau katakan padaku??
Jika nanti waktu mengizinkan kita untuk saling menyapa, kata apa yg ingin kau dengar dariku??
Jika nanti takdir memberi kesempatan untuk kita saling berbagi cerita lagi, kisah apa yang akan kau sampaikan padaku??

Masih mungkinkah senyum yang dulu tetap menjadi milik kita?

Masih adakah sorot mata yang saling memuja kan tetap disana?

Masih adakah  serpihan rindu yang kan kita bagi??
                                           ..atau..
Semuanya t'lah berbeda dan Kita hanya akan saling diam, tenggelam dalam keheningan??
              Jika....
                                 Nanti.....
                                                      Kita....
                                 Bertemu...
              Kembali....

Siapa yang kan menjadi Siapa dalam perjamuan Benang Merah Takdir Kita..?